Saking lelahnya ia berlari, ia pun terjatuh di salah satu sudut bantaran sungai. Ia menyandarkan punggungnya diatas sebuah batu yang cukup besar, merenung, memandangi hamparan arus sungai yang hitam kelam, berhiaskan pantulan cahaya rembulan malam itu.
Tak jauh dari tempat dimana pemuda itu bersandar, beberapa meter kearah selatan, telah terbentang jalanan kota yang terang benderang. Mobil, motor, truk, dan sepeda berlalu lalang tak karuan.
Berlahan tapi pasti, sang pemuda mengumpulkan tenaganya yang tersisa, berjalan ke arah jalan itu. Jalan utama Surabaya - Solo memang hampir tak pernah sepi. Kini ia berada di pingir jalan, ia pun mulai mengayun-ayunkan kedua tangannya, tampaknya ia bermaksud untuk mencari tumpangan ke arah timur.
Sebuah truk yang agak lusuh memperlambat laju kecepatannya dan berhenti tepat di samping sang pemuda. Tak lama kemudian, truk itu kembali berjalan dengan kecepatan tinggi ke arah Surabaya, sedangkan sang pemuda sedang asyik bercengkrama dengan sopir truk yang baik hati tersebut.



