Allah Ta'ala memberi contoh perkataan mulia
Luqman saat memerintahkan anaknya:
"... dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)". [QS. Lukman : 17]
Berdasarkan firman Allah di atas telah jelas tentang diwajibkannya ber-amar ma'ruf nahi mungkar. Fenomena yang terjadi sekarang ini di tengah-tengah kita adalah keengganan seseorang dalam melaksanakan kewajiban ini.
Dari firman Allah tersebut, ada beberapa poin utama yang terkandung di dalamnya, yaitu:
"... dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)". [QS. Lukman : 17]
Berdasarkan firman Allah di atas telah jelas tentang diwajibkannya ber-amar ma'ruf nahi mungkar. Fenomena yang terjadi sekarang ini di tengah-tengah kita adalah keengganan seseorang dalam melaksanakan kewajiban ini.
Dari firman Allah tersebut, ada beberapa poin utama yang terkandung di dalamnya, yaitu:
- Perintah untuk ber-amar ma'ruf (menyuruh manusia lain mengerjakan kebaikan),
- Perintah untuk ber-nahi mungkar (mencegah dari perbuatan yang mungkar),
- Perintah untuk bersabar terhadap apa yang menimpa,
- Penegasan kembali dari Allah Ta'ala tentang diwajibkannya ketiga hal tersebut.
Inilah hakikat akhlaq yang harus dimiliki oleh seorang Muslim. Allah Ta'ala berfirman: "Adalah engkau sekalian itu sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk seluruh manusia, karena engkau semua memerintah dengan kebaikan dan melarang dari kemungkaran." [QS. Ali-Imran: 110]
Berlepasnya seseorang dari ketiga poin tersebut (amar ma'ruf, nahi mungkar, dan kesabaran) akan menyebabkan kerusakan yang meluas, dan yang terutama adalah merugikan bagi orang yang meninggalkannya.
Allah Ta'ala berfirman: "Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." [QS. Al-'Ashr: 1-3]
Keutamaan Orang Yang Ber-Amar Ma'ruf, Nahi
Mungkar, dan Sabar
Sejatinya suatu hal yang diwajibkan oleh
Allah kepada manusia mempunyai keutamaan yang besar bagi seseorang yang
menunaikannya.
1. Diselamatkan dari
keburukan/bencana/musibah yang akan menimpa
Allah Ta'ala berfirman: "Kami
menyelamatkan orang-orang yang melarang dari keburukan dan Kami menerapkan
hukuman kepada orang-orang yang menganiaya dengan siksaan yang pedih dengan
sebab mereka berbuat kefasikan." [QS. Al-A'raf: 165]
2.Allah memasukan kebahagian ke dalam hati
Allah Ta'ala berfirman: "Hendaklah ada
diantara engkau semua itu suatu umat -golongan- yang mengajak kepada kebaikan,
memerintah dengan kebaikan serta melarang dari kemungkaran. Mereka itulah
orang-orang yang berbahagia." [QS. Ali-Imran: 104]
Tapi dibalik itu maka meninggalkan Amar
Ma'ruf, Nahi Mungkar, dan Sabar, juga mempunyai konsekuensi yang seimbang
dengan keutamaan di atas.
Tuntunan Ber-Amar Ma'ruf Nahi Mungkar
Dalam ber-amar ma'ruf nahi mungkar dibutuhkan
3 bagian penting yang satu sama lainnya saling membutuhkan dalam penegakkan
amar ma'ruf nahi mungkar.
- Niat Ikhlas
- Ilmu Syariat
- Kelembutan dan Kesabaran \
1. Niat Ikhlas
Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim Ibnu
Taimiyah berkata:
"Maka pertama sekali, hendaklah seseorang menjadikan urusannya karena
Allah dan tujuannya adalah menta’ati Allah pada apa yang diperintahkan Allah
kepadanya. Dan mencintai kemaslahatan manusia atau menegakkan hujjah terhadap
mereka. Apabila ia mengerjakan perbuatan yang disebutkan di atas karena ingin
mencari kedudukan untuk dirinya dan golongannya serta merendahkan orang lain,
maka perbuatan itu menjadi hamiyah (fanatik golongan atau hizbiyyah) yang tidak
diterima Allah.
Begitu juga kalau dia mengerjakanya karena
mencari sum’ah (reputasi / ingin didengar orang) dan riya’ (disimulasi / ingin
dilihat orang), maka perbuatan itu akan menjadi sia-sia. Kemudian apabila
perbuatannya itu dibantah atau dirinya disakiti atau dikatakan terhadap
dirinya, bahwa dia itu adalah orang yang salah dan tujuannya salah, maka dia
mencari pertolongan (pendukung) untuk memenangkan dirinya sendiri, sehingga
syaitan pun mendatanginya.
[Minhaajus Sunnah 3/64, tarjim Abu Abdillah
Muhammad Elvi Syam]
2. Ilmu Syariat
Ilmu syariat sangatlah diperlukan dalam
ber-amar ma'ruf nahi mungkar. Darimana seseorang tahu apa-apa kebaikan yang
harus ia perintahkan dan mana saja keburukan yang harus ia cegah darinya
bilamana ia sendiri tidak mengetahui yang mana yang ma'ruf dan yang mana yang
mungkar. Perlu diketahui bahwa "Apa-apa yang menurut kita baik, belum
tentu itu baik dan apa-apa yang menurut kita tidak baik, belum tentu itu
keburukan, semua kebaikan dan semua keburukan telah disebutkan tanpa ada celah
tertinggal di dalam syariat Islam yang sempurna ini"
Orang-orang yang hanya berpegang atau
mengedepankan akalnya saja dalam menghukumi suatu perbuatan itu baik atau tidak
baik, jelas akan lebih banyak salah dan sesat dari jalan kebenaran itu sendiri.
Wahyu berupa Al Quran dan As Sunnah harus menjadi imam dari akal, bukan
sebaliknya.
"Mengedepankan akal dalam agama ibarat
seseorang yang berjalan di tengah hutan belantara yang luas dengan berbekal
lilin. Ia akan berputar-putar, tersandung, bahkan bisa jadi lilin yang menjadi
penerangnya tersebut mati tertiup angin atau dikarenakan lain hal. Sedangkan
apabila wahyu yang menjadi imam dari akal, maka wahyu tersebut ibarat bintang
yang terang benderang di kegelapan malam yang menembus dedaunan, seseorang di
dalam hutan dengan berbekal lilin tidak akan tersesat bila mengambilnya sebagai
penunjuk arah. Lilin ia gunakan untuk melihat sekitarnya agar terhindar dari
lubang atau akar yang melintang, dan bintang ia jadikan sebagai penunjuk jalan
kemana ia harus melangkah."
3. Kelembutan dan Kesabaran
Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim Ibnu
Taimiyah
berkata: "Berlemah-lembut di waktu menyuruh, serta bijaksana setelah
menyuruh. Kalau seandainya ia bukan seorang yang ‘alim, maka ia tidak boleh
mengikuti apa yang tidak ia ketahui. Kalau seandainya ia seorang yang ‘alim
(berilmu), tetapi tidak berlemah-lembut, maka bagaikan seorang dokter yang
tidak mempunyai sikap lemah-lembut, lantas bersikap kasar terhadap pesien,
akibatnya pasien pun tidak menerimanya. Dan seperti seorang pendidik yang
kasar, maka anak pun tidak bisa menerimanya". [Minhaajus Sunnah 3/64,
tarjim Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam]
Keberhasilan suatu dakwah memerlukan
kesabaran dalam melakukannya. Allah Ta'ala berfirman: "Dan sesungguhnya
orang yang berhati sabar dan suka memaafkan, sesungguhnya bagi yang sedemikian
itu adalah termasuk pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dengan keteguhan
hati." [QS. As-Syura: 43]
Dari Aisyah radhiallahu 'anha pula
bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya
sikap lemah-lembut itu tidak menetap dalam sesuatu perkara, melainkan ia makin
memperindah hiasan baginya dan tidak dicabut dari sesuatu perkara, melainkan
membuat cela padanya." (Riwayat Muslim)
Dari Jarir bin Abdullah radhiallahu
'anhuma., katanya: "Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: "Barangsiapa yang tidak dikaruniai sifat lemah lembut,
maka ia tidak dikaruniai segala macam kebaikan." (Riwayat Muslim)
Berikut Dampak-dampak buruk dari
ditinggalkannya Amar Ma'ruf, Nahi Mungkar, dan Sabar:
1. Turunnya Azab Allah
Manakala di dalam suatu tempat atau negeri
sudah terlampau banyak keburukan, kemungkaran, kefasikan dan kecurangan, maka
kebinasaan dan kerusakan akan merata di daerah itu dan tidak hanya mengenai
orang jahat-jahat saja, tetapi orang-orang shalih tidak akan dapat
menghindarkan diri dari azab Allah itu, sekalipun jumlah mereka itu cukup
banyak.
Dari Annu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Perumpamaan orang yang
berdiri tegak -untuk menentang orang-orang yang melanggar- pada had-had Allah
-yakni apa-apa yang dilarang olehNya- dan orang yang menjerumuskan diri di
dalam had-had Allah -yakni senantiasa melanggar larangan-laranganNya- adalah
sebagai perumpamaan sesuatu kaum yang berserikat -yakni bersama-sama- ada dalam
sebuah kapal, maka yang sebagian dari mereka itu ada di bagian atas kapal,
sedang sebagian lainnya ada di bagian bawah kapal. Orang-orang yang berada di
bagian bawah kapal itu apabila hendak mengambil air, tentu saja melalui
orang-orang yang ada di atasnya -maksudnya naik keatas dan oleh sebab hal itu
dianggap sukar-, maka mereka berkata: "Bagaimanakah andaikata kita membuat
lobang saja di bagian bawah kita ini, suatu lobang itu tentunya tidak
mengganggu orang yang ada di atas kita." Maka jika sekiranya orang yang
bagian atas itu membiarkan saja orang yang bagian bawah menurut kehendaknya,
tentulah seluruh isi kapal akan binasa. Tetapi jikalau orang bagian atas itu
mengambil tangan orang yang bagian bawah -melarang mereka dengan kekerasan-
tentulah mereka selamat dan selamat pulalah seluruh penumpang kapal itu."
[HR. Bukhari]
Dalam sabda lainnya Rasulullah Shallallâhu
'Alaihi Wasallam bersabda:
"Sesungguhnya manusia itu bila melihat
kemungkaran tapi tidak mengingkarinya, maka dikhawatirkan Allah akan menimpakan
siksa-Nya yang juga menimpa mereka." [HR. Abu Dawud dalam Al-Malahim
(4338), At-Tirmidzi dalam At-Tafsir (3057)]
2. Tidak dikabukannya Doa, Tidak Diberi Bila
Meminta, dan Tidak Ditolong
Dalam sebuah Hadits Qudsi, dari Aisyah
Radhiallahu'anha, Rasulullah Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: Allah
berfirman: "Perintahkanlah kepada yang ma`ruf (kebaikan), dan laranglah
dari hal yang munkar (keburukan), sebelum kalian berdoa lalu Aku tidak
mengabulkan doa kalian, sebelum kalian meminta kepada-Ku lalu Aku tidak memberi
kepada kalian, sebelum kalian meminta pertolongan kepada-Ku lalu aku tidak
memberi pertolongan kepada kalian." [HR Ahmad (VI/159) dan al-Bazzâr (no.
3304)]
Kemungkaran itu jangan didiamkan saja
merajalela. Bila kuasa harus diperingatkan dengan perbuatan agar terhenti
kemungkaran tadi seketika itu juga. Bila tidak sanggup, maka dengan lisan
(dengan nasihat peringatan atau perkataan yang sopan santun), sekalipun ini
agak lambat berubahnya. Tetapi kalau masih juga tidak sanggup, maka cukuplah
bahwa hati kita tidak ikut-ikut menyetujui adanya kemungkaran itu. Hanya saja
yang terakhir ini adalah suatu tanda bahwa iman kita sangat lemah sekali.
Karena dengan hati itu hanya bermanfaat untuk diri kita sendiri, sedang dengan
perbuatan atau nasihat itu dapat bermanfaat untuk kita dan masyarakat umum,
hingga kemungkaran itu tidak terus menjadi-jadi.
Dari
Abu Said al-Khudri radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar
Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa diantara engkau semua melihat
sesuatu kemungkaran, maka hendaklah mengubahnya itu dengan tangannya, jikalau
tidak dapat, maka dengan lisannya dengan jalan menasihati orang yang melakukan
kemungkaran tadi -dan jikalau tidak dapat juga- dengan lisannya, maka dengan
hatinya -maksudnya hatinya mengingkari serta tidak menyetujui perbuatan itu.
Yang sedemikian itu -yakni dengan hati saja- adalah selemah-lemahnya
keimanan." (Riwayat Muslim)
3. Ridho Terhadap Kemungkaran berakibat
Hilangnya Keimanan dalam Hati
Dari Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhuma
bahwasanya Rasulullah Shallallâhu 'Alaihi Wasallam. bersabda: "Tiada
seorang nabipun yang diutus oleh Allah sebelumku, melainkan ia mempunyai
beberapa orang hawari (penolong atau pengikut setia) dari kalangan umatnya,
juga beberapa sahabat, yang mengambil teladan dengan sunnahnya serta mentaati
perintahnya. Selanjutnya sesudah mereka ini akan menggantilah beberapa orang
pengganti yang suka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, bahkan juga
melakukan apa yang mereka tidak diperintahkan (pelaku bid'ah). Maka barangsiapa
yang berjuang melawan mereka itu (yakni para penyeleweng dari ajaran-ajaran
nabi yang sebenarnya ini) dengan tangan (atau kekuasaannya), maka ia adalah
seorang mu'min, barangsiapa yang berjuang melawan mereka dengan lisannya, iapun
seorang mu'min dan barangsiapa yang berjuang melawan mereka dengan hatinya,
juga seorang mu'min, tetapi jikalau semua itu tidak -dengan tangan, lisan dan
hati, maka tiada keimanan sama sekali sekalipun hanya sebiji sawi."
(Riwayat Muslim)
Semoga kita mampu untuk melaksanakan kewajiban amar ma'ruf nahi mungkar ini, semoga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat dan menganugerahkan kesabaran kepada kita semua. Aamiin.

0 komentar:
Posting Komentar